Selasa, 21 Maret 2017

Budaya Hedonisme di Kalangan Mahasiswa

Oleh :
Nur Hibatullah Ahmad 

Menurut saya Hedonisme adalah hal –hal yang berbau mengejar kesenangan sesaat, selalu ingin menjadi pusat perhatian dan memiliki sifat pemborosan. Tanpa mempedulikan kondisi perekonomian / keuangan yang ia miliki. Bersenang – senang, pesta – pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup mereka yang menaganut paham ini, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Yang penting happy.
Dalam kamus Collins Gem (1993:97) dinyatakan bahwa, “Hedonisme adalah doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup, atau hedonisme adalah paham yang dianut oleh orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata-mata”.
Hedonime muncul pada awal sejarah filsafat sekitar tahun 433 SM. Hedonisme ingin menjawab pertanyaan filsafat tentang apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia. Hal ini diawali dengan Socrates yang menanyakan tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir manusia. Lalu Aristippus (433 – 355 SM) memaparkan bahwa manusia sejak masa kecilnya mempunyai sifat untuk mencari kesenangan dan apabila tidak mencampainya, manusia akan mencari sesuatu yang lain lagi. Pndangan tentang hedonisme ini kemudian dilanjutkan seorang filsuf Yunani yang lain yakni bernama Epikuros ( 341 – 270 SM). Menurut dirinya, tindakan manusia yang mencari kesenangan adalah kodrat alamiah. Meskipun demikian, hedonisme versi Epikuros lebih luas karena tidak hanya mencakup kesenangan fisik / badani saja seperti kaum Aristippus, melainkan kesenangan rohani juga, seperti terbebasnya jiwa dari keresahan.
Demikian Sejarah awal munculnya istilah hedonisme yang kini makin marak di berbagai masyarakat penjuru dunia termasuk negara kita Indonesia. Namun seiring era globalisasi menjadikan budaya asing tersebut mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan semakin majunya sistem teknologi dan komunikasi yang mengakibatkan perubahan sosial semakin berkembang dengan cepat dan hedonisme adalah bagian dari dampak identifikasi perubahan sosial. Ini menjadi masalah yang cukup serius untuk ditelaah lebih dalam lagi. Uatamanya saat ini sangat mempengaruhi kondisi kehidupan masyarakat di sekeliling kita.
MAHASISWA
Mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat yang termasuk dalam kategori generasi penerus si masa depan atau sering kita sebut agent of change / agen perubahan. Peran mereka sebagai generasi penerus akan menentukan kemajuan  dan kemampuan untuk bersaing dalam segala bidang, baik ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi ataupun lainnya. Tetapi pada kenyataanya sekarang apakah mahasiswa pantas mendapatkan label agent of change ? liat saja di sekeliling kita mahasiswa jaman sekarang hanya mencari kesenangan dan menikmati kehidupan tanpa ingin mersakan jerih payah atau kerja keras yang lebih. Gaya hidup mahasiswa saat ini merupakan gaya hidup yang konsumtif dengan mengonsumsi produk dan gaya hidup yang serba modern. Mahasiswa sering kali digambarkan dengan menonjolkan tampilan fisik, fenomena hura - hura kerap di temui di kampus. Saya sebagai mahasiswa perbankan syariah IAIN Surakarta sering melihat teman – teman melakukan hal pemborosan layaknya sorang artis yang berfoya – foya nongkrong di Cafe, mall, dan sebagainya. Untuk membuat serba kekinian mereka mampu dengan cepat mengikuti tetapi ketika untuk membeli prasana kebutuhan perkuliahan semisal buku mereka tidak merespon dengan cepat dengan dalih alasan terlalu MAHAL, memang gila jaman sekarang yang menjadi kebutuhan sering di sepelekan dan yang merupakan keinginan semu segera didapatkan. Saya sendiri sebagai mahasiswa pas – pasan kalaupun nongkrong lebih baik di wedangan / angkringan sambil sharing dengan teman dekat saya kalaupun ada uang lebih, lebih baik di tabung.
Budaya Hedonisme sudah sangat menjamur di kalangan mahasiswa, dengan ingin serba kekinian gadget mewah, penampilan wah. Mungkin sering terdengar mereka membicarakan Fasion, Nongkrong tempat yang asyik dari pada membicarakan hal – hal yang berbau akademisi ataupun hal yang bermanfaat. Inikah generasi penerus bangsa ini ? Padahal saya banyak melihat teman saya adalah anak yang notabene kurang mampu, banyak orang tua mereka yang berpenghasilan minim tetapi mereka sangat boros, takutnya kalau mereka sudah terjerumus dengan budaya tersebut mereka akan mencari jalan pintas untuk apa yang mereka inginkan. Mungkin sedikit beruntung bagi mereka yang mempunyai uang tetapi tetap saja berbahaya hal ini bisa menyebabkan hal buruk bagi dunia pendidikan, tertutama Perguruan tinggi. Membiarkan racun bersarang dalam tubuh kampus sama artinya menyediakan pembunuh karakter intelektual atas mahasiswa. Seharusnya mereka sebagai mahasiswa harus lebih bisa mengatur / lebih menghargai uang dan berpikir untuk membedakan apa yang dimaksud kebutuhan atau keinginan semu sesaat.
Dan menurut Ekonomi Islam yang saya pelajari di kampus sangat bertolak belakang dengan budaya hedonisme, Ekonomi Islam yang menganut sistem syariah yang berpegang teguh kepada Al-qur’an dan As-sunnah berbeda dengan budaya hedonisme yang akrab dengan hal – hal yang berbau pemborosan.  Perbuatan boros adalah gaya hidup gemar berlebih-lebihan dalam menggunakan harta, uang maupun sumber daya yang ada demi kesenangan saja. Dengan terbiasa berbuat boros seseorang bisa menjadi buta terhadap orang-orang membutuhkan di sekitarnya,sulit membedakan antara yang halal dan yang haram,mana boleh mana tidak boleh dilakukan, dan lain sebagainya. Allah SWT menyuruh kita untuk hidup sederhana dan hemat, karena jika semua orang menjadi boros maka suatu bangsa bisa rusak/hancur.
Arti Al-Israa' ayat 26-27 :
"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan".

            Jadi untuk melawan budaya hedonisme kita harus mempertebal iman, mampu berpikir jernih untuk membedakan kebutuhan atau kenginan, dan mencari teman yang baik agar kita tak tepengaruh oleh lingkungan.

0 komentar:

Posting Komentar