Oleh :
Nur
Hibatullah Ahmad
Menurut saya Hedonisme
adalah hal –hal yang berbau mengejar kesenangan sesaat, selalu ingin menjadi
pusat perhatian dan memiliki sifat pemborosan. Tanpa mempedulikan kondisi
perekonomian / keuangan yang ia miliki. Bersenang – senang, pesta – pora, dan
pelesiran merupakan tujuan utama hidup mereka yang menaganut paham ini, entah
itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Yang penting happy.
Dalam kamus Collins
Gem (1993:97) dinyatakan bahwa, “Hedonisme adalah doktrin yang menyatakan bahwa
kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup, atau hedonisme adalah
paham yang dianut oleh orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata-mata”.
Hedonime muncul
pada awal sejarah filsafat sekitar tahun 433 SM. Hedonisme ingin menjawab
pertanyaan filsafat tentang apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia. Hal ini
diawali dengan Socrates yang menanyakan tentang apa yang sebenarnya menjadi
tujuan akhir manusia. Lalu Aristippus (433 – 355 SM) memaparkan bahwa manusia
sejak masa kecilnya mempunyai sifat untuk mencari kesenangan dan apabila tidak
mencampainya, manusia akan mencari sesuatu yang lain lagi. Pndangan tentang
hedonisme ini kemudian dilanjutkan seorang filsuf Yunani yang lain yakni
bernama Epikuros ( 341 – 270 SM). Menurut dirinya, tindakan manusia yang
mencari kesenangan adalah kodrat alamiah. Meskipun demikian, hedonisme versi
Epikuros lebih luas karena tidak hanya mencakup kesenangan fisik / badani saja
seperti kaum Aristippus, melainkan kesenangan rohani juga, seperti terbebasnya
jiwa dari keresahan.
Demikian Sejarah
awal munculnya istilah hedonisme yang kini makin marak di berbagai masyarakat
penjuru dunia termasuk negara kita Indonesia. Namun seiring era globalisasi
menjadikan budaya asing tersebut mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan
semakin majunya sistem teknologi dan komunikasi yang mengakibatkan perubahan
sosial semakin berkembang dengan cepat dan hedonisme adalah bagian dari dampak
identifikasi perubahan sosial. Ini menjadi masalah yang cukup serius untuk
ditelaah lebih dalam lagi. Uatamanya saat ini sangat mempengaruhi kondisi kehidupan masyarakat di sekeliling kita.
MAHASISWA
Mahasiswa merupakan
bagian dari masyarakat yang termasuk
dalam kategori generasi penerus si masa depan atau sering kita
sebut agent of change / agen perubahan. Peran mereka sebagai generasi penerus akan menentukan
kemajuan dan kemampuan untuk bersaing
dalam segala bidang, baik ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi ataupun
lainnya.
Tetapi pada kenyataanya sekarang apakah mahasiswa pantas
mendapatkan label agent of change ? liat saja di sekeliling kita mahasiswa
jaman sekarang hanya mencari kesenangan dan menikmati kehidupan tanpa ingin
mersakan jerih payah atau kerja keras yang lebih. Gaya hidup mahasiswa saat ini
merupakan gaya hidup yang konsumtif dengan mengonsumsi produk dan gaya hidup
yang serba modern. Mahasiswa sering kali digambarkan dengan menonjolkan
tampilan fisik, fenomena hura - hura kerap di temui di kampus. Saya sebagai mahasiswa perbankan syariah IAIN
Surakarta sering melihat teman – teman melakukan hal pemborosan layaknya sorang
artis yang berfoya – foya nongkrong di Cafe, mall, dan sebagainya. Untuk
membuat serba kekinian mereka mampu dengan cepat mengikuti tetapi ketika untuk
membeli prasana kebutuhan perkuliahan semisal buku mereka tidak merespon dengan
cepat dengan dalih alasan terlalu MAHAL, memang gila jaman sekarang yang
menjadi kebutuhan sering di sepelekan dan yang merupakan keinginan semu segera
didapatkan. Saya sendiri sebagai mahasiswa pas – pasan kalaupun nongkrong lebih
baik di wedangan / angkringan sambil sharing dengan teman dekat saya kalaupun
ada uang lebih, lebih baik di tabung.
Budaya Hedonisme
sudah sangat menjamur di kalangan mahasiswa, dengan ingin serba kekinian gadget
mewah, penampilan wah. Mungkin sering terdengar mereka membicarakan Fasion,
Nongkrong tempat yang asyik dari pada membicarakan hal – hal yang berbau
akademisi ataupun hal yang bermanfaat. Inikah generasi penerus bangsa ini ?
Padahal saya banyak melihat teman saya adalah anak yang notabene kurang mampu,
banyak orang tua mereka yang berpenghasilan minim tetapi mereka sangat boros,
takutnya kalau mereka sudah terjerumus dengan budaya tersebut mereka akan
mencari jalan pintas untuk apa yang mereka inginkan. Mungkin sedikit beruntung
bagi mereka yang mempunyai uang tetapi tetap saja berbahaya hal ini bisa
menyebabkan hal buruk bagi dunia pendidikan, tertutama Perguruan tinggi. Membiarkan
racun bersarang dalam tubuh kampus sama artinya menyediakan pembunuh karakter
intelektual atas mahasiswa. Seharusnya mereka sebagai mahasiswa harus lebih
bisa mengatur / lebih menghargai uang dan berpikir untuk membedakan apa yang
dimaksud kebutuhan atau keinginan semu sesaat.
Dan menurut Ekonomi
Islam yang saya pelajari di kampus sangat bertolak belakang dengan budaya
hedonisme, Ekonomi Islam yang menganut sistem syariah yang berpegang teguh
kepada Al-qur’an dan As-sunnah berbeda dengan budaya hedonisme yang akrab
dengan hal – hal yang berbau pemborosan.
Perbuatan boros adalah gaya hidup gemar berlebih-lebihan dalam
menggunakan harta, uang maupun sumber daya yang ada demi kesenangan saja.
Dengan terbiasa berbuat boros seseorang bisa menjadi buta terhadap orang-orang
membutuhkan di sekitarnya,sulit membedakan antara yang halal dan yang
haram,mana boleh mana tidak boleh dilakukan, dan lain sebagainya. Allah SWT
menyuruh kita untuk hidup sederhana dan hemat, karena jika semua orang menjadi
boros maka suatu bangsa bisa rusak/hancur.
Arti Al-Israa' ayat 26-27 :
"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu)
secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara
setan".
Jadi
untuk melawan budaya hedonisme kita harus mempertebal iman, mampu berpikir
jernih untuk membedakan kebutuhan atau kenginan, dan mencari teman yang baik
agar kita tak tepengaruh oleh lingkungan.

0 komentar:
Posting Komentar