Oleh : Nur
Hibatullah Ahmad*
Sumber daya insani
atau kita lebih dikenal dengan sumber daya manusia dalam suatu perusahaan (bank
syariah) merupakan sebuah keharusan dan kebutuhan.
Perlu diketahui
keberhasilan pengembangan perbankan syariah bukan hanya ditentukan keberhasilan
meningkatnya profit, penyebarluasan informasi, penyusunan atau penyempurnaan
perangkat, atau banyaknya pembukaan jaringan kantor, tetapi juga ditentukan
oleh kualitas dan kuantitas sumber daya manusia para pelaku / praktisi
perbankan syariah itu sendiri, sehingga bank syariah bisa berjalan sesuai
prinsip syariah dan dapat dimanfaatkan masyarakat luas sebagai bagian dari
sistem keuangan yang rahmatan lil alamin.
Selain itu SDM merupakan
infrastruktur strategis yang sangat mempengaruhi keberhasilan upaya
pengembangan perbankan syariah. Diperlukan upaya sungguh-sungguh yang dilakukan
secara berkesinambungan untuk dapat mencapai kuantitas dan kualitas SDM yang diperlukan sesuai kebutuhan sehingga dapat
menghasilkan produk dan layanan yang baik.
Dengan demikian,
praktisi perbankan syariah tidak hanya terfokus pada pengejaran target yang
ditetapkan demi kepentingan shareholders (pemegang saham), tetapi juga
berkomitmen pada penerapan nilai-nilai syariah. Untuk mewujudkan sistem dan
tatanan perbankan syariah yang sehat dan istiqomah dalam penerapan prinsip
syariah dibutuhkan sumber daya insani (SDI) / SDM yang mampu menguasai syariah
dan teknis perbankan.
Sebagimana diberitakan antaranews.com, Wakil Ketua Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES)
Mustafa Edwin Nasution mengatakan Indonesia telah tertinggal dari Malaysia dalam
hal penciptaan industri perbankan syariah di negara masing-masing.
"Indonesia baru masuk industri perbankan syariah mulai 1992 sedangkan
Malaysia telah 10 tahun sebelumnya," ujarnya.
Menurut dia, kendala dalam SDM dapat menghambat laju pertumbuhan dan
kelangsungan industri perbankan syariah maka dibutuhkan SDM yang sesuai dengan
kemampuan di bidang tersebut agar perkembangannya menjadi optimal.
Salah satu bank
syariah di kota Surakarta, informasi yang saya dapatkan ketika magang. secara kesuluruhan
di bank syariah disana banyak lulusan dari Perguruan Tinggi yang bukan dengan
latar belakang lulusan ekonomi syariah, sehingga harus diakui SDM yang berada
disana yang paham mengenai prinsip ekonomi Islam masih langka. Untuk itu,
sekarang kini mulai muncul program studi ekonomi syariah di Perguruan tinggi yang
seharusnya siap menjawab kegalauan lembaga – lembaga keuangan syariah.
Ketika saya
magang, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada divisi SDI salah satu bank
syariah di surakarta. Yang menjadi bahan pertanyaan saya antara lain
pengembangan pelatihan SDI, Rekrutmen disana,
lulusan ekonomi syariah, serta Job Description SDI. Beliau mencoba menjelaskan
Job Description SDI seorang divisi SDI
di analogikan seperti HRD pada sebuah perusahaan seperti bertanggung jawab
dalam hal perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sumber daya insani serta
pengembangan kualitas sumber daya insani tersebut.
Selanjutnya
untuk karyawan lulusan ekonomi syariah disana, beliau menjawab belum ada,
beliau berasalan diakarenakan lulusan ekonomi syariah baru muncul akhir – akhir
ini. Dan ternyata karyawan disana banyak juga lulusan yang bekerja tidak sesuai
bidangnya pada saat kuliah. Seperti banyak juga disana lulusan Diskomvis
menjadi Control Investigasi, lulusan hukum menjadi marketing, dan Lulusan pertanian
menjadi seorang CS. Karyawan disana yang yang paham akad akad perbankan syariah
juga masih sangat minim. Untuk itu mahasiswa ekonomi syariah harus meningkatkan
ilmu pengetahuan dunia perbankan, memahami nilai – nilai moral dalam aplikasi fikih muamalah/ekonomi syariah, dan
Memahami konsep dan aplikasi transaksi-transaksi (akad) dalam muamalah ekonomi
syariah dikarenakan lembaga keuangan syariah sangat membutuhkan SDI atau SDM yang
handal.
Lulusan
Ekonomi Syariah
Secara
internasional,
Indonesia dipandang sebagai kekuatan dan memiliki potensi besar keuangan
syariah global – 10 negara terbesar dibidang keuangan syariah. Lebih tepatnya di urutan ke 9 dengan
aset sebesar 35,629 ($ million), sebagaimana di ungkapkan oleh DR. Fauzi (Ketua
OJK Yogyakarta), dalam diskusi publik di UIN Sunan Kalijaga, (5/16). Untuk itu
dibutuhkan SDM yang handal.
Padahal, kendala pengembangan perbankan
syariah salah satunya terletak pada masih kurangnya jumlah dan kualitas tenaga
berkompeten, untuk menjalankan industri perbankan di sektor syariah ini.
Saat ini banyak perguruan tinggi-perguruan
tinggi yang membuka Program Studi (prodi) ekonomi syariah. " Ada 72 perguruan
tinggi yang punya Prodi Ekonomi Syariah. Bahkan ada satu perguran tinggi yang
bisa menerima 1.000 mahasiswa untuk priode ini," ujar Direktur Perbankan
Syariah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dhani Gunawan Idhat, dalam diskusi di
Rancamaya Hotel, (11/15).
Sayangnya, jumlah ini tak seluruhnya bisa
diserap lantaran kompetensi yang diperlukan oleh Bank Syariah ternyata tidak
dipenuhi oleh para lulusan dari sejumlah perguruan tinggi tersebut.
Hal ini berarti dapat disimpulkan bahwa
Peguruan Tinggi yang membuka program studi ekonomi syariah masih bermasalah,
kemungkinan besar dalam hal kurikulum, kurikulum di Perguruan Tinggi tersebut
belum memenuhi kebutuhan perbankan syariah.
Untuk itu dibutuhkan standarisasi
kurikulum, dengan cara bank syariah dan Perguruan Tinggi yang membuka program
studi ekonomi islam duduk bersama menentukan standarisasi sesuai kebutuhan bank
syariah, sehingga tercipta lulusan ekonomi syariah dapat terserap di dunia
perbankan syariah ataupun dunia kerja.

0 komentar:
Posting Komentar