Rabu, 01 Agustus 2018

Minimnya SDM Bank Syariah dan Bagaimana Lulusan Ekonomi Syariah ?


Oleh    : Nur Hibatullah Ahmad*
Sumber daya insani atau kita lebih dikenal dengan sumber daya manusia dalam suatu perusahaan (bank syariah) merupakan sebuah keharusan dan kebutuhan.
Perlu diketahui keberhasilan pengembangan perbankan syariah bukan hanya ditentukan keberhasilan meningkatnya profit, penyebarluasan informasi, penyusunan atau penyempurnaan perangkat, atau banyaknya pembukaan jaringan kantor, tetapi juga ditentukan oleh kualitas dan kuantitas sumber daya manusia para pelaku / praktisi perbankan syariah itu sendiri, sehingga bank syariah bisa berjalan sesuai prinsip syariah dan dapat dimanfaatkan masyarakat luas sebagai bagian dari sistem keuangan yang rahmatan lil alamin.
Selain itu SDM merupakan infrastruktur strategis yang sangat mempengaruhi keberhasilan upaya pengembangan perbankan syariah. Diperlukan upaya sungguh-sungguh yang dilakukan secara berkesinambungan untuk dapat mencapai kuantitas dan kualitas SDM yang diperlukan sesuai kebutuhan sehingga dapat menghasilkan produk dan layanan yang baik.
Dengan demikian, praktisi perbankan syariah tidak hanya terfokus pada pengejaran target yang ditetapkan demi kepentingan shareholders (pemegang saham), tetapi juga berkomitmen pada penerapan nilai-nilai syariah. Untuk mewujudkan sistem dan tatanan perbankan syariah yang sehat dan istiqomah dalam penerapan prinsip syariah dibutuhkan sumber daya insani (SDI) / SDM yang mampu menguasai syariah dan teknis perbankan.
Sebagimana diberitakan antaranews.com, Wakil Ketua Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Mustafa Edwin Nasution mengatakan Indonesia telah tertinggal dari Malaysia dalam hal penciptaan industri perbankan syariah di negara masing-masing.
"Indonesia baru masuk industri perbankan syariah mulai 1992 sedangkan Malaysia telah 10 tahun sebelumnya," ujarnya.
Menurut dia, kendala dalam SDM dapat menghambat laju pertumbuhan dan kelangsungan industri perbankan syariah maka dibutuhkan SDM yang sesuai dengan kemampuan di bidang tersebut agar perkembangannya menjadi optimal.
Salah satu bank syariah di kota Surakarta, informasi yang saya dapatkan ketika magang. secara kesuluruhan di bank syariah disana banyak lulusan dari Perguruan Tinggi yang bukan dengan latar belakang lulusan ekonomi syariah, sehingga harus diakui SDM yang berada disana yang paham mengenai prinsip ekonomi Islam masih langka. Untuk itu, sekarang kini mulai muncul program studi ekonomi syariah di Perguruan tinggi yang seharusnya siap menjawab kegalauan lembaga – lembaga keuangan syariah.
Ketika saya magang, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada divisi SDI salah satu bank syariah di surakarta. Yang menjadi bahan pertanyaan saya antara lain pengembangan  pelatihan SDI, Rekrutmen disana, lulusan ekonomi syariah, serta Job Description SDI. Beliau mencoba menjelaskan Job Description SDI seorang divisi  SDI di analogikan seperti HRD pada sebuah perusahaan seperti bertanggung jawab dalam hal perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sumber daya insani serta pengembangan kualitas sumber daya insani tersebut.
Selanjutnya untuk karyawan lulusan ekonomi syariah disana, beliau menjawab belum ada, beliau berasalan diakarenakan lulusan ekonomi syariah baru muncul akhir – akhir ini. Dan ternyata karyawan disana banyak juga lulusan yang bekerja tidak sesuai bidangnya pada saat kuliah. Seperti banyak juga disana lulusan Diskomvis menjadi Control Investigasi, lulusan hukum menjadi marketing, dan Lulusan pertanian menjadi seorang CS. Karyawan disana yang yang paham akad akad perbankan syariah juga masih sangat minim. Untuk itu mahasiswa ekonomi syariah harus meningkatkan ilmu pengetahuan dunia perbankan, memahami nilai – nilai moral dalam aplikasi fikih muamalah/ekonomi syariah, dan Memahami konsep dan aplikasi transaksi-transaksi (akad) dalam muamalah ekonomi syariah dikarenakan lembaga keuangan syariah sangat membutuhkan SDI atau SDM yang handal.
Lulusan Ekonomi Syariah
Secara internasional, Indonesia dipandang sebagai kekuatan dan memiliki potensi besar keuangan syariah global – 10 negara terbesar dibidang keuangan syariah. Lebih tepatnya di urutan ke 9 dengan aset sebesar 35,629 ($ million), sebagaimana di ungkapkan oleh DR. Fauzi (Ketua OJK Yogyakarta), dalam diskusi publik di UIN Sunan Kalijaga, (5/16). Untuk itu dibutuhkan SDM yang handal.
Padahal, kendala pengembangan perbankan syariah salah satunya terletak pada masih kurangnya jumlah dan kualitas tenaga berkompeten, untuk menjalankan industri perbankan di sektor syariah ini.
Saat ini banyak perguruan tinggi-perguruan tinggi yang membuka Program Studi (prodi) ekonomi syariah. " Ada 72 perguruan tinggi yang punya Prodi Ekonomi Syariah. Bahkan ada satu perguran tinggi yang bisa menerima 1.000 mahasiswa untuk priode ini," ujar Direktur Perbankan Syariah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dhani Gunawan Idhat, dalam diskusi di Rancamaya Hotel, (11/15).
Sayangnya, jumlah ini tak seluruhnya bisa diserap lantaran kompetensi yang diperlukan oleh Bank Syariah ternyata tidak dipenuhi oleh para lulusan dari sejumlah perguruan tinggi tersebut.
Hal ini berarti dapat disimpulkan bahwa Peguruan Tinggi yang membuka program studi ekonomi syariah masih bermasalah, kemungkinan besar dalam hal kurikulum, kurikulum di Perguruan Tinggi tersebut belum memenuhi kebutuhan perbankan syariah.
Untuk itu dibutuhkan standarisasi kurikulum, dengan cara bank syariah dan Perguruan Tinggi yang membuka program studi ekonomi islam duduk bersama menentukan standarisasi sesuai kebutuhan bank syariah, sehingga tercipta lulusan ekonomi syariah dapat terserap di dunia perbankan syariah ataupun dunia kerja.

0 komentar:

Posting Komentar